MIKROTIK ROUTEROS

Static DNS & DNS Cache
Konfigurasi DNS di MikroTik untuk Kecepatan dan Keandalan Jaringan
Informasi Penulis
Penulis: Jovian Ekasakta
Guru: Arief Wahyudin
Kelas: XI TJKT 03
Sekolah: Dwija Bhakti 01 Jombang

TOPOLOGI JARINGAN DNS

SERVICE IP pada MikroTik RouterOS
Tampilan topologi di gns3

Topologi jaringan yang digunakan untuk implementasi DNS di MikroTik terdiri dari komponen-komponen berikut:

Router MikroTik berfungsi sebagai DNS server dan DNS cache untuk seluruh jaringan lokal. Semua klien dalam jaringan akan menggunakan router sebagai DNS resolver utama.

Berikut adalah komponen-komponen dalam topologi jaringan DNS:

1. MikroTik Router (192.168.88.1)
# Berfungsi sebagai DNS server dan DNS cache
2. Internet/ISP → Sumber DNS Upstream
# Menyediakan resolusi DNS untuk domain publik (8.8.8.8, 1.1.1.1)
3. Jaringan LAN (192.168.88.0/24)
# Perangkat klien yang menggunakan layanan DNS MikroTik
4. Server Internal (192.168.88.254)
# Server internal yang di-resolve melalui Static DNS

Dalam topologi ini, MikroTik Router menangani semua permintaan DNS dari jaringan lokal. Untuk domain publik (seperti google.com), router akan meneruskan permintaan ke server DNS upstream (seperti 8.8.8.8). Untuk domain internal (seperti server.local), router akan menggunakan entri static DNS yang telah dikonfigurasi.

Router MikroTik harus dikonfigurasi dengan benar untuk membatasi akses DNS hanya untuk jaringan internal. Ini mencegah router digunakan sebagai open DNS resolver yang dapat dimanfaatkan untuk serangan DNS amplification.

Dengan menggunakan topologi ini, kita dapat mengoptimalkan kinerja DNS dengan memanfaatkan fitur static DNS dan DNS cache yang ditawarkan oleh RouterOS.

1. KONFIGURASI STATIC DNS DI MIKROTIK

SERVICE IP pada MikroTik RouterOS
Tampilan halaman SERVICE IP pada MikroTik RouterOS

Dari sumber MikroTik Documentation (2023), static DNS memungkinkan administrator menambahkan entri DNS yang tidak berubah (static) sehingga hostname tertentu selalu di-resolve ke IP yang ditentukan, terlepas dari perubahan pada server DNS upstream.

Untuk menambahkan entri static DNS melalui CLI, gunakan perintah:

/ip dns static add name=server.local address=192.168.88.254 ttl=1d
# Menambahkan entri server.local → 192.168.88.254 dengan TTL 1 hari

Dari sumber ShellHacks (2023), setelah menambahkan entri static DNS, Anda dapat melihat daftar entri yang sudah dikonfigurasi dengan perintah:

/ip dns static print
# Output akan menampilkan daftar entri static DNS
Columns: NAME, ADDRESS, TTL
# NAME ADDRESS TTL
0 router.local 192.168.88.1 1d
1 server.local 192.168.88.254 1d

Dari sumber MikroTik Wiki (2021), untuk setiap entri static DNS tipe A dan AAAA, RouterOS secara otomatis menambahkan juga catatan PTR (Pointer Record) ke dalam cache, sehingga reverse lookup juga berfungsi.

Dari sumber Cloudzy (2025), konfigurasi static DNS sangat berguna untuk menyimpan entri host lokal seperti server internal atau printer di jaringan Anda. Anda dapat menambahkan sebanyak mungkin entri host sesuai kebutuhan.

/ip dns static add name=printer.local address=192.168.88.10
/ip dns static add name=nas.local address=192.168.88.20
/ip dns static add name=camera.local address=192.168.88.30

Jika ingin menggunakan ekspresi reguler (regex) untuk mencocokkan beberapa domain sekaligus, gunakan parameter regexp:

/ip dns static add regexp=".*\\.mikrotik\\.com" address=10.0.0.1
# Semua subdomain dari mikrotik.com akan diarahkan ke 10.0.0.1

Dari sumber LightNode (2025), static DNS juga dapat digunakan sebagai metode pemblokiran domain dengan mengarahkan domain yang ingin diblokir ke alamat IP tidak valid (misalnya 0.0.0.0). Hal ini berguna untuk meningkatkan keamanan jaringan.

Dari 2 pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa konfigurasi static DNS di MikroTik menawarkan cara efektif untuk memetakan nama host ke alamat IP tertentu dengan beragam manfaat, mulai dari kemudahan pengelolaan perangkat internal hingga kontrol keamanan jaringan melalui pemblokiran domain.

2. KONFIGURASI DNS CACHE DI MIKROTIK

SERVICE IP pada MikroTik RouterOS
Tampilan halaman SERVICE IP pada MikroTik RouterOS

Dari sumber MikroTik Documentation (2023), DNS cache di MikroTik menyimpan hasil query DNS selama periode waktu tertentu, sehingga permintaan berulang ke domain yang sama tidak perlu diteruskan ke server DNS eksternal, meningkatkan kecepatan resolusi nama domain.

Untuk mengaktifkan dan mengonfigurasi DNS cache melalui CLI, gunakan perintah:

/ip dns set allow-remote-requests=yes cache-size=2048KiB cache-max-ttl=1d
# Mengaktifkan DNS cache dengan ukuran 2MB dan TTL maksimum 1 hari

Dari sumber OperaVPS (2025), konfigurasi DNS cache yang lengkap sebaiknya mencakup parameter berikut:

/ip dns set servers=8.8.8.8,8.8.4.4 allow-remote-requests=yes \
max-udp-packet-size=4096 query-server-timeout=2s \
query-total-timeout=10s cache-size=2048KiB cache-max-ttl=7d
# Konfigurasi DNS cache yang lebih lengkap

Dari sumber IT Orakul (2025), ukuran cache default adalah 2048 KiB (2MB), yang cukup untuk penggunaan umum. Namun, jika Anda menggunakan fitur tambahan seperti Adlist (untuk pemblokiran iklan), cache perlu ditingkatkan karena daftar domain akan disimpan di cache.

Untuk melihat status dan penggunaan DNS cache saat ini:

/ip dns print
# Menampilkan konfigurasi DNS saat ini
servers: 8.8.8.8,8.8.4.4
allow-remote-requests: yes
cache-size: 2048KiB
cache-max-ttl: 7d
cache-used: 128KiB

Dari sumber Cloudzy (2025), untuk melihat entri yang tersimpan dalam DNS cache, gunakan perintah:

/ip dns cache print
# Menampilkan daftar entri dalam DNS cache

Jika perlu mengosongkan cache DNS, misalnya setelah perubahan konfigurasi DNS:

/ip dns cache flush
# Mengosongkan seluruh cache DNS

Dari sumber LightNode (2025), penggunaan DNS cache pada MikroTik memungkinkan peningkatan performa jaringan, namun juga dapat meningkatkan konsumsi RAM. Sesuaikan ukuran cache dengan kapasitas router Anda untuk hasil optimal.

Dari 2 pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa DNS cache di MikroTik berperan penting dalam meningkatkan efisiensi jaringan dengan menyimpan hasil query DNS dan mengurangi latensi, serta menghemat bandwidth dengan mengurangi jumlah permintaan DNS yang dikirim ke server eksternal.

3. VERIFIKASI DAN PEMECAHAN MASALAH DNS

Dari sumber MikroTik Documentation (2023), verifikasi konfigurasi DNS dapat dilakukan dengan melakukan ping ke nama domain untuk memastikan resolusi DNS berfungsi dengan baik.

/ping google.com
# Output yang diharapkan jika DNS bekerja dengan baik
SEQ HOST SIZE TTL TIME STATUS
0 142.250.74.14 56 55 14ms echo reply
1 142.250.74.14 56 55 15ms echo reply

Dari sumber MikroTik Wiki (2021), untuk melakukan resolusi DNS secara eksplisit tanpa menggunakan ping, gunakan perintah resolve:

:put [resolve google.com]
# Output akan menampilkan alamat IP dari google.com
142.250.74.14

Jika terdapat masalah dengan resolusi DNS, periksa konfigurasi server DNS dan konektivitas ke server tersebut:

/ping 8.8.8.8
# Verifikasi konektivitas ke server DNS Google

Dari sumber IT Orakul (2025), untuk mendiagnosis masalah DNS, aktifkan logging untuk peristiwa DNS dengan menjalankan perintah: /system logging add topics=dns,debug action=memory untuk mencatat aktivitas DNS ke log sistem.

Dari sumber System Zone (2021), masalah umum dengan DNS dapat disebabkan oleh cache yang korup. Jika mengalami masalah, coba kosongkan cache terlebih dahulu:

/ip dns cache flush
# Mengosongkan cache DNS untuk mengatasi masalah resolusi

Untuk memverifikasi entri static DNS tertentu, gunakan perintah nslookup dari perangkat klien yang menggunakan router MikroTik sebagai server DNS:

# Perintah ini dijalankan dari perangkat klien, bukan dari MikroTik
nslookup server.local 192.168.88.1
# Di mana 192.168.88.1 adalah alamat IP router MikroTik

Dari sumber ShellHacks (2023), pastikan keamanan DNS dengan membatasi akses ke layanan DNS router MikroTik hanya untuk jaringan internal dengan menambahkan aturan firewall yang memblokir permintaan DNS dari luar.

Dari 2 pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa verifikasi dan pemecahan masalah DNS di MikroTik melibatkan penggunaan beberapa alat diagnostik seperti ping, resolve, dan logging, disertai pemahaman tentang cara kerja DNS cache dan static DNS untuk mengatasi masalah umum yang mungkin terjadi.

4. PERBANDINGAN DNS STATIS DAN DINAMIS

Dari sumber MikroTik Documentation (2023), penting untuk memahami perbedaan mendasar antara DNS statis dan dinamis dalam implementasi jaringan dengan RouterOS.

Berikut adalah perbandingan mendetail antara kedua jenis DNS:

Dari sumber ShellHacks (2023), DNS Statis menggunakan konfigurasi manual dan tetap, sedangkan DNS Dinamis melakukan pembaruan otomatis sesuai dengan perubahan alamat IP.

DNS STATIS
# Konfigurasi manual dan tetap
1. Entri dikonfigurasi manual oleh administrator
2. Tetap tidak berubah sampai dimodifikasi manual
3. Ideal untuk server internal dengan IP tetap
4. Tidak memerlukan pembaruan berkala
5. Contoh perintah: /ip dns static add name=server.local address=192.168.88.254
DNS DINAMIS
# Pembaruan otomatis sesuai perubahan alamat IP
1. Entri diperbarui secara otomatis
2. Berubah saat alamat IP berubah
3. Ideal untuk perangkat dengan IP dinamis
4. Memerlukan protokol pembaruan (seperti DDNS)
5. Contoh perintah: /ip cloud set ddns-enabled=yes ddns-update-interval=1h

Dari sumber IT Orakul (2025), kelebihan dan kekurangan masing-masing metode adalah sebagai berikut:

Kelebihan DNS Statis:

Kekurangan DNS Statis:

Kelebihan DNS Dinamis:

Kekurangan DNS Dinamis:

Dari sumber Cloudzy (2025), dari sudut pandang keamanan, DNS Statis memiliki keunggulan karena entri dikonfigurasi secara manual dan tidak bergantung pada permintaan pembaruan otomatis yang dapat disalahgunakan.

Dari sumber LightNode (2025), untuk konfigurasi MikroTik yang optimal, pendekatan hybrid sering digunakan: DNS Statis untuk perangkat internal penting dan DNS Dinamis untuk koneksi eksternal atau remote.

Dari berbagai pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemilihan antara DNS Statis dan DNS Dinamis bergantung pada kebutuhan spesifik jaringan. DNS Statis menawarkan stabilitas dan keamanan untuk infrastruktur internal, sementara DNS Dinamis memberikan fleksibilitas untuk perangkat dengan alamat IP yang berubah-ubah. Implementasi yang tepat pada MikroTik RouterOS dapat mengkombinasikan keduanya untuk memaksimalkan efisiensi dan kehandalan jaringan.

DAFTAR PUSTAKA